Selasa, 23 Oktober 2012

Menunggu dan Seterusnya


Di antara hujan, dan kata bosan. Dalam bingkai cerah langit,
 hujan tetap berjatuhan. Di belenggu janji yang belum
 terpenuhi, aku menanti; kamu!
Terusirku dari lamun. Jemu mengucapkan gelisah di
 kantong mata, tanpa ampun!
Dan terus ku pilin waktu yang merayap lambat. Apakah aku
ada disana , nomor urut pertama sebagai orang yang
kamu nantikan?!
“Maaf, waktu menjepitku!” katamu. “Tak mengapa,”
Jawabku. Pada detik yang melesat cepat, senyuman kita pun
bertemu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar