Selasa, 23 Oktober 2012

Cinta.

Tiga kata itu mengukir prasasti janji di setiap bunyi gerimis.
“Aku sayang kamu!”
Menimbang dan seterusnya.
Memperhatikan dan seterusnya.
Mencintai dank au lah pasalnya.
Dan,
Selalu ada rindu yang menggemuka setiap kali kutulis kata “tanpamu.”
Dan, karena cinta itu kerja, maka jatuh cinta adalah belajar menncintai.
“Tanpamu,”itu semakin menjepit ruang mimpi dan kenyataan
ketika aku ditelan kesendirian.
Serahkan saja pada malam, dan biarkan mimpi memulai kisahnya.
Dan,
Begitu tiba di tempatmu biasa bermanja, rinduku terluka.
Dan,
Rindu itu terluka karena mengeja inci bahagia yang kau pagutkan di batas nyata dan mimpi.
Dan,
Ketukan palu itu jatuh kepadaku. Sebagai terdakwa yang mencintaimu.
Dan,
Berangkat dari titik nol, mengejar satu mimpi.
Bersamamu, ini lebih berarti.
Dan,
Hai, kamu. Kutitipkan peluk hangat yang memanas tungku.
Lugu menggebu. Tulus melumat malammu.
Dan,
Dari matam, bahagia pun memendar tersipu tiap kali kutulis kata “denganmu”.
 Dan,
Bahkan tanpa kata “dengan” pun aku mampu membawa pulang bahagia itu.
Asal ada “mu” di awal dan di akhir “ku”.
Dan,
Lebih pantas aku mencintaimu ketika air matamu menderas karena bahagia itu sendiri.
Dan,
Aku timbun kenangan di ladang anggur. Saat panen tiba, aku ingin berpesta dan mabuk kepayang bersamanya.
Selogis-logisnya, cinta itu menempatkan logika di urutan kedua bahkan ketiga. Nomor satunya: kegilaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar