Selasa, 23 Oktober 2012

abjad sunyi

Rentang sebja segera hilang. Dan ceritamu masih merupa abjad sunyi.
Begitulah. Barisan abjadku tak merupa kata. Tercerai berai entah mengeja apa.
Mungkin, kamu dan sunyi malam.
Atau, mungkin sudah tak dibutuhkan lagi barisan kata karena jawabnya akan selalu sama: kamu, saja!
Atau, cukup aku katakan: sudahlah! Biarkan saja kata-kata merupa abjad sunyi.
Asalkan di kedalaman rasa, kamu tercetak sebagai cinta.

Tak selamanya, pedih itu berarti sakit. Kadang, tangis yang mengiring adalah bahaia yang tak kita sadari.
Paling tidak, kita jadi mengerti apa sesungguhnya sakit ketika kita merasakan air mata mengalir. Inilah kebahagiaan sesungguhnya.
Betapa tidak ada makna hidup ketika kita tak pernah punya air mata. Tawa, mungkin, tak pernah terselami arti sejatinya saat mata kering dari air mata.
Menangislah sejadi-sajadinya jika itu yang menjadi apa yang paling kita inginkan saat ini, detik ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar