Selasa, 23 Oktober 2012

abjad sunyi

Rentang sebja segera hilang. Dan ceritamu masih merupa abjad sunyi.
Begitulah. Barisan abjadku tak merupa kata. Tercerai berai entah mengeja apa.
Mungkin, kamu dan sunyi malam.
Atau, mungkin sudah tak dibutuhkan lagi barisan kata karena jawabnya akan selalu sama: kamu, saja!
Atau, cukup aku katakan: sudahlah! Biarkan saja kata-kata merupa abjad sunyi.
Asalkan di kedalaman rasa, kamu tercetak sebagai cinta.

Tak selamanya, pedih itu berarti sakit. Kadang, tangis yang mengiring adalah bahaia yang tak kita sadari.
Paling tidak, kita jadi mengerti apa sesungguhnya sakit ketika kita merasakan air mata mengalir. Inilah kebahagiaan sesungguhnya.
Betapa tidak ada makna hidup ketika kita tak pernah punya air mata. Tawa, mungkin, tak pernah terselami arti sejatinya saat mata kering dari air mata.
Menangislah sejadi-sajadinya jika itu yang menjadi apa yang paling kita inginkan saat ini, detik ini.

snap!


and this is the time when we fall in love wiff the camera..
so i'll bring you to another sweet tour wiff ma best friends!
snap snap..






we taken this photos just for fun..
hope you like it yeay!




From the right:
ValentinaSekar (@sekar_vsw)
Kurnia Estuningtyas (@KTyas_)
Gabriella Errandya (@BellaMiorichia)
Monika Astra (@MonikaArum1)
and me, Anselma Hesti (@anselmahesti)

rindu dan kebahagiaan

Percuma mengelabui waktu. Tertulis disana, rindu memburu napasmu.
Perau tersedak luka yang mulai membiru.
Ini bukan langit, Sayang; tapi biru luka yang menyisakan perih di pusat lebamnya.
Ada rindu di sana; juga ikatan yang tak berdaya.
Suatu ketika, entah kapan  masanya, akan kulampiaskan rindu dendamku; di setiap ruas tubuhku.
  
Apa yang ku rindukan saat ini? Menangis di sudut bibirmu.
Lalu, membiarkan diriku meratapi kebahagiaan yang menjamu barisan hari,
saat atau tidak bersamamu. Hari itu, detik ini, dan mungkin nanti.
Sejauh melangkah, tak surut membabibuta ajakku menilas ranah penyatuan perasaan dari keterpisahan-jarak juga kenyataan.
Memerdekakan diri sejenak, lalu bertekuk lutut pada hatimu-lagi, satu-satunya.
Hanya itu, rasaku sepertinya.

jangan ajari 'ku berpaling

Hati. Dari sini, perjalanan cinta bermula. Berkendara senja bermata
biru rindu. Tak kemana, kamu lah tujuannya.
Gerbang rinduku kini terbuka lebar. Sayang, begitu jauh
memanjang dari tempatmu berdiri.
Gerah rinduku berpeluh. Di gersang saharmu, kutunggu sergapan
Matamu teduhanku; sungguh!
Seperti memindai kabut di matamu. Aku beringsut setapak ke
belakang mengejar kerlingan manjamu.
Ah, kurang ajar! Sumpah, rindu tak berkurang. Maka, tolong
Jangan ajari hatimu untuk berpaling.

Cinta.

Tiga kata itu mengukir prasasti janji di setiap bunyi gerimis.
“Aku sayang kamu!”
Menimbang dan seterusnya.
Memperhatikan dan seterusnya.
Mencintai dank au lah pasalnya.
Dan,
Selalu ada rindu yang menggemuka setiap kali kutulis kata “tanpamu.”
Dan, karena cinta itu kerja, maka jatuh cinta adalah belajar menncintai.
“Tanpamu,”itu semakin menjepit ruang mimpi dan kenyataan
ketika aku ditelan kesendirian.
Serahkan saja pada malam, dan biarkan mimpi memulai kisahnya.
Dan,
Begitu tiba di tempatmu biasa bermanja, rinduku terluka.
Dan,
Rindu itu terluka karena mengeja inci bahagia yang kau pagutkan di batas nyata dan mimpi.
Dan,
Ketukan palu itu jatuh kepadaku. Sebagai terdakwa yang mencintaimu.
Dan,
Berangkat dari titik nol, mengejar satu mimpi.
Bersamamu, ini lebih berarti.
Dan,
Hai, kamu. Kutitipkan peluk hangat yang memanas tungku.
Lugu menggebu. Tulus melumat malammu.
Dan,
Dari matam, bahagia pun memendar tersipu tiap kali kutulis kata “denganmu”.
 Dan,
Bahkan tanpa kata “dengan” pun aku mampu membawa pulang bahagia itu.
Asal ada “mu” di awal dan di akhir “ku”.
Dan,
Lebih pantas aku mencintaimu ketika air matamu menderas karena bahagia itu sendiri.
Dan,
Aku timbun kenangan di ladang anggur. Saat panen tiba, aku ingin berpesta dan mabuk kepayang bersamanya.
Selogis-logisnya, cinta itu menempatkan logika di urutan kedua bahkan ketiga. Nomor satunya: kegilaan.

Nothing!


         Kemarin, satu hari kebahagiaanmu. Sudah kunanti-nanti tanggal itu dengan hati-hati dan penuh kesabaran. Saat itu aku mulai berfikir tentang sebuah barang yang akan ku berikan untuk seseorang yang istimewa walah mungkin tidak se-istimewa orang yang kau sayang bahkan mungkin mantanmu. Hari demi hari telah berlalu, ku lalui dengan penuh pertanyaan. Hingga satu malam sebelum tanggal kelahiranmu, aku memutuskan untuk bertanya pada teman-temanku, hadiah apa yang cocok diberikan untukmu. Pikiranku berhenti pada satu pilihan, sejak itu aku berusaha mencari toko yang menjual kado untuk manusia ciptaan Tuhan sepertimu.

                Sehari sebelum hari H, aku mengajak 2 orang temanku untuk menemaniku ke sebuah tempat lalu mereka membantuku dengan sepenuh hati. Tak masalah berapapun uang yang aku keluarkan untuk memberikan sesuatu yang istimewa walaupun mungkin tidak istimewa lagi di mata mu. Asalkan kau mau menerimanya dengan senang hati, aku sudah bahagia mendengarnya. Akhirnya hari yang ku tunggu pun datang, pada pagi hari perasaanku disiksa karena dipaksa melakukan sesuatu yang mungkin kurang berkenan di hatimu. Entah bagaimana engkau menanggapinya, aku tak tahu. Biarlah rasa penasaranku ini Tuhan yang menjawab. Hingga pada jam istirahat aku meminta tolong seorang temanku yang juga teman kelasmu untuk menaruh sesuatu dari ku. Akhirnya dia menaruhnya di tas biru yang berada di pojok kelasmu dekat jendela. Dia mengetaui atau tidak? Semoga. Saat itu aku kaget karena seorang temanmu bertanya kepadaku, apakah yang memberi semua itu aku, tidak, jawabku. Di dalam sana tertulis ucapan, namun sengaja tidak ku tulis nama pengirimnya disana, untuk mastikan apakah kamu masih ingat dengan sosok seseorang disini yang selalu memikirkanmu. J

Menunggu dan Seterusnya


Di antara hujan, dan kata bosan. Dalam bingkai cerah langit,
 hujan tetap berjatuhan. Di belenggu janji yang belum
 terpenuhi, aku menanti; kamu!
Terusirku dari lamun. Jemu mengucapkan gelisah di
 kantong mata, tanpa ampun!
Dan terus ku pilin waktu yang merayap lambat. Apakah aku
ada disana , nomor urut pertama sebagai orang yang
kamu nantikan?!
“Maaf, waktu menjepitku!” katamu. “Tak mengapa,”
Jawabku. Pada detik yang melesat cepat, senyuman kita pun
bertemu.

Jumat, 19 Oktober 2012

this is music ♬

 

we'll talking about one of the sweet things in this earth.
guess what?
yea! it's me he he. kiddin' he he.
absolutely..
MUSIC
why i love music? yea i'll explain that.
but first..
do you know what the music is?
let's ask the people....

"Music is a higher revelation than all wisdom and philosophy" - Ludwig van Beethoven

"Music is everybody's possession. It's only publishers who think that people own it." - John Lennon

"Music is the medicine of the breaking heart."  - Leigh Hunt

that's what people said.
and for me.. music is my soul and i loves music more than anything.
music always express my feelings.
music can express love, sad, happy, broken heart, angry and many more.
music is ART.

music is divided in to many genres.
jazz, hiphop, pop, rock, metal, punk, country, traditional and many more!


you can listen to the music in many ways.
like listen to the radio, mp3, ipod, tv, laptop and another stuff.




music also have many instruments.
everybody knows that. isn't it?



music is..
AMAZING
that's why i really loves music.
music can speak everything and anything.
music have a magical sound magical words that can hypnotize us.
one day you'll find that one song can understand you perfectly.
"music gives a soul to the universe, wings to the mind, flight to the imagination and life to everything."
is that beautiful?
there's no reason to do not likes music.
music is like our life.
and i guess we can't live without music.
so..
PLAY ON YOUR MUSIC!